CARA MENGATASI POLA PERILAKU BURUK ANAK
June 10th, 2007 by felix69
Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua
orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal
dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi
universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya.
Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di
Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan tapi pasti,
tayangan kekerasan mulai berkurang di semua TV swasta. Ada yang
mengurangi jam tayang, ada yang memindahkan jam tayang, ada pula yang
sama sekali menghilangkannya. Telah terbayang, penghargaan yang akan
diterimanya besok lusa atas kegigihan dan konsistensinya melawan
kekerasan pada anak-anak.
Tiba-tiba, di tengah kemacetan; pandangan matanya terantuk pada
sekumpulan bocah-bocah yang tengah mengerubungi sesuatu. Sepertinya
sebuah perkelahian. Ada yang aneh. Mengapa bocah-bocah itu begitu gegap
gempita dan ceria?
Terkadang mereka ikut berteriak dan kadang beberapa di antara
mereka menirukan gerakan berkelahi. Dinar merasa penasaran dan ketika
mobilnya bergerak mendekati kerumunan di pinggir jalan itu, ia melihat
penjual VCD bajakan sedang tengah memutar film Smack-down! Ia
terhenyak. Sejenak kepalanya terasa pusing.
Mengapa masih ada saja yang melakukan itu? Padahal tayangannya
sudah sangat berkurang di televisi. Malah sekarang muncul di jalanan.
Belum hilang rasa pusingnya, ketika melewati lampu merah, ia
terkena macet lagi dan mau tidak mau, kembali ia harus melihat
pemandangan “menyeramkan” lagi : kumpulan anak-anak di depan penjual
games playstation yg judul & gambarnya lagi-lagi tentang
smack-down.
Dinar merasa begitu lemas. Ia tidak mau melihat lagi. Ada rasa
sakit. Seperti dikhianati. Ia memutuskan memacu mobilnya cepat-cepat.
Ia ingin cepat tiba di rumah dan melihat putera-puteranya yang manis
dan santun memeluk dan menyambutnya.
Tiba di ujung gang besar, Dinar mendengus kesal. Jalan ditutup.
Entah ada apa. Sekilas ia melihat tumpukan janur yang belum dijalin.
“Mungkin ada yang mau menikah”.
Ia bergegas mengambil laptop dan tas kerjanya. Lalu berjalan
cepat menuju rumahnya. Ada sebuah rumah yang tampak ramai. Pagarnya
terbuka dan di depan pintu dipenuhi sandal-sandal kecil.
“Oh, apakah perpustakaan mini? Kemarin belum ada”.
Penasaran, ia langkahkan kaki ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia
akan mengajak Bayu dan Dimas ke situ besok. Setibanya di dalam,
lagi-lagi ia terkesiap. Bukan perpustakaan mini yang rapi dan tenang.
Tapi sebuah tempat penyewaan playstation yang gaduh dan riuh. Ada anak
yang bermain, ada yang hanya menonton. Tujuh dari sepuluh pemain
memilih film permainan gulat : smack-down!
Kali ini Dinar tak tahan lagi. “Bencana” itu tidak menjauh.
Malah kini makin mendekati anak-anaknya. Hanya sepelemparan batu dari
rumahnya. Ia mundur dan menutup pintu dengan lemah. Langkahnya gontai,
matanya basah. Apa lagi yang harus kulakukan? Berminggu-minggu
kuhabiskan waktu berkampanye, melobby sana sini, berbicara di
seminar-seminar besar dan kecil. Bayu dan Dimas pun terpaksa harus
merelakan waktu mereka bersama bundanya banyak tersita.
“Demi Bayu, Dimas dan semua anak Indonesia”, begitu selalu kata Dinar.
Kedua jagoannya bisa diberi pengertian, tapi Mas Danu; suaminya
sudah beberapa kali mengultimatumnya, “Ini pertama dan terakhir kamu
sesibuk ini. Lagipula, apa sih salahnya dengan gulat smack-down? Kan
tidak semua orang jadi korban. Menurutku malah bagus, anak laki-laki
harus nonton, supaya tidak jadi gemulai. Lagipula, apa sih yang membuat
kamu begitu yakin kalau kamu bisa mengubah keadaan?”
Sesulit inikah untuk melindungi buah hati tercinta Anda?
Modelling
Apa yang seketika muncul dalam benak Anda jika mendengar kata
Modelling? Ibu-ibu membayangkan wanita bertubuh langsing yang selalu
diidam-idamkan. Mungkin sebagian kaum pria langsung terbayang tayangan
Fashion TV. Kalau Anda, apa yang muncul dalam benak?
Modelling yang saya maksudkan di sini tidak ada hubungan dengan
dunia fashion ataupun bintang iklan manapun. Modelling yang maksud di
sini adalah kemampuan meniru.
Anda yang telah memiliki anak tentu masih ingat ketika awalnya
mengajari mereka berbicara. Walaupun anak Anda mengeluarkan suara yang
jauh daripada mirip “Papa” atau “Mama”, Anda tetap konsisten dengan
“Pa.. Pa..” atau “Ma.. Ma..” berulang kali tanpa bosan-bosannya. Sampai
ketika anak Anda berhasil menyebutkan dengan benar; berarti anak Anda
sudah berhasil memodel Anda.
Berbeda dengan pikiran orang dewasa yang daya kritisnya sudah
matang, pikiran anak-anak hampir selalu dalam keadaan imajinatif. Apa
pun yang mereka lihat, dengar dan rasakan akan cepat sekali ditiru atau
dimodel. (baca juga NLP for Parenting #1)
Bayangkan bila mereka menonton tayangan di televisi tanpa
didampingi oleh orang dewasa di sampingnya. Apa jadinya tontonan
kekerasan yang sebetulnya ditujukan untuk hiburan orang dewasa yang
sebetulnya penuh dengan trik muslihat kemudian dianggap benar oleh
anak-anak.
Ketika mereka dilarang meniru adegan tersebut malah menimbulkan
tanda tanya bagi anak-anak; bagi mereka tindakan tersebut dianggap
sebagai bermain. “Toh, di televisi orang-orangnya masih dapat bangun
dan berteriak-teriak lagi. Kenapa sih papa mama selalu menghalangi
kesenangan saya”, begitu yang ada dalam benak anak-anak.
Stasiun televisi sudah memasang tanda BO, bahkan kini ditulis
“Bimbingan Orangtua” pada sudut televisi Anda. Tanda itu bukanlah
HIASAN semata,melainkan PERINGATAN!
Tips :
Dampingilah selalu buah hati dalam setiap tontonannya agar
mereka mendapatkan informasi yang benar dari Anda; selaku orangtuanya.
Penjelasan dari Anda seperti layaknya sebuah program antivirus yang
melindungi komputer dari serangan virus. Sama halnya dengan antivirus
yang harus diupdate setiap saat. Mendampingi anak menonton pun harus
dilakukan sesering mungkin, bukan hanya sesaat.
Pertanyaan :
Berapa jam sehari anak Anda duduk di depan televisi? Jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat?